Sabtu, 10 Oktober 2015

SELAMAT DATANG

Pagi kini engkau datang lagi
Tersenyumlah anak manusia di ujung gedung menjulang tinggi
Tertatihlah pemuda yang tak tidur sedari malam sampai dini hari
Terbang dan terbaringlah dua hal yang dari sisi yang berbeda

Selamat  datang pejuang rakyat yang baru
Kuharap niat mu satu kan tuju
Meraih cita-cita para leluhurmu
Untuk Indonesia yang satu dalam mengukir sejarah baru

Kini engkau akan menyandang gelar di pundakmu
Bukan gelar akademisi yang terlena
Dan juga bukan gelar keparat nan durjana
Melainkan gelar emas tokoh elit dalam kalangan pemuda
Yaitu gelar mahasiswa
Gelar cendikia nan bijaksana
Di pundaknya lah harapan sebuah bangsa
Di bahu mu lah rakyat bersandar penuh luka dan duka

Tetesan keringat mu yang mengalir merupakan darah juang mu
Segudang tenaga mu terlahir dari niat suci mu
Nyanyian teriakmu adalah amarah rasa kecewamu
Dan selangkah derap kaki mu akan meruntuhkan seribu tameng yang kokoh di depanmu

Berjalanlah di jalan yang benar
Berlabuhlah di pelabuhan yang idamkan
Tapi janganlah kau sesekalinya
Berbari di atas penderitaaan rakyat
Karena kekuatan rakyat akan melumat habis wibawa mu
Jangan lah kau bersandar di tiang yang haram

Hanya untuk kepuasan yang tiada berguna bagi nusa dan bangsa

DERU BERLALU

Hiruk pikuk jeritan pengemis di pasar
Sempoyangan serdadu-serdadu berjalan tertawa
Para pemilik kantor tidur terlelap di atas meja
Teriak lawan, mulai mengelegar di udara.

Jalanan di penuhi debu-debu janji para penguasa
Lobang-lobang busuk pun sudah menyemat perut-perut wakil setia
Mengerogoti hidup para rakyat yang sengsara
Berdiri tegak lah, bentuk barisan senyawa.

Hutan-hutan gundul penyebab bencana
Serakah penguasa hanya melihat saja
Tanpa berbuat malah diam saja
Satu kan lah langkah sebar jeritan rakyat merdeka

Bayi-bayi kecil mati di usia balita
Ibunya menangis karena lahan padi kini sudah berdiri gedung kokoh para penguasa
Lantang berteriak satukan suara

Hari ini. Para penguasa telah meraja lela
Para pekerja pemerintah hanya pemakan gaji buta
Tanpa bekerja hanya terbaring manja
Dibalik sebuah ruangan berkaca timbul tengelam dalam sejuknya mesin penikmat dada

Dan hari ini
Kita akan berdiri selangkah lebih berani
Melawan para penguasa sampai mati

Agar negeri ini bisa hidup sejahtera lagi

Kamis, 18 Juni 2015

TIADA

Sejenak mata melirik senja
Sungguh indah terasa di pelupuk mata
Merangkul cahya lenyap sirna
Luput mata melihat terbawa gelap gulita

Kini malam sudah tiba
Angin sepoy-sepoy mulai menggoda
Beranjak pergi ke atas kasur tua
Di atas ranjang yang tergoreh rapuh termakan usia
Mulai terlihat gelap tiada tara
Melanda asa di pelupuk mata
Kini terlelap lah sang pujangga cinta
Menuju pagi berbalut duka
Karena diri ini sudah tiada



LARA

Aku...
Aku yang tergambar di dalam selembar kertas
diam terpaku tertekuk lemas
melawan garis hidup yang begitu keras
menerpa kaki ku yang terasa kebas

aku....
aku yang merintih malu di bawah mentari panas
bersembunyi dibalik awan yang terlihat malas
kesana kemari hanya untuk melintas
menghampiri apakah diri ini pantas

berjuang keras
memenuhi sebuah gelas
banyak derita yang menghampiri sekilas
kaki berpijak kini tak ber alas